Makna kejujuran dalam kisah pemindahan kiblat

Belum lama kita memasuki tahun baru Hijriyah, beberapa hari lagi bahkan kita akan memasuki tahun baru Masehi. Dan, di bulan hijriyah kita sudah memasuki hari ke-25 bulan kedua, yakni shafar 1435H, yang berarti seminggu lagi akan memasuki bulan Rabiul Awal, bulan kelahiran Nabi besar Muhammad SAW.

Terkait dengan hijrah Nabi yang merupakan ruhnya bulan hijriyah, juga terkait dengan pergantian tahun baik tahun baru hijriyah maupun tahun baru masehi, dan dengan akan masuknya kita ke bulan Rabiul Awal, seyogyanya kita meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Sebab hanya dengan bekal takwa kita akan selamat di dunya maupun di akhirat kelak.

Pada kesempatan ini pula, dipandang perlu untuk mengulas sedikit ayat AlQuran surat Al-Baqarah (S. 2 : 144).

قَد نَرىٰ تَقَلُّبَ وَجهِكَ فِى السَّماءِ

Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, begitu kata Allah. Dalam Tafsir Jalalain disebutkan maksudnya Nabi SAW menengadah ke langit menunggu-nunggu kedatangan wahyu dan rindu menunggu perintah menghadap Ka’bah. Sebabnya tidak lain karena ia merupakan kiblat Nabi Ibrahim a.s. dan lebih menggugah untuk masuk Islamnya orang-orang Arab.

فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبلَةً تَرضىٰها

Maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai.

فَوَلِّ وَجهَكَ شَطرَ المَسجِدِ الحَرامِ

Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dalam tafsir Jalalain disebutkan maksudnya menghadaplah di waktu shalat kea rah Masjidil Haram, yakni Ka’bah.

وَحَيثُ ما كُنتُم فَوَلّوا وُجوهَكُم شَطرَهُ

dan dimana saja kamu berada, Palingkanlah mukamu ke arahnya. Dalam Tafsir Jalalain disebutkan bahwa ini ditujukan kepada seluruh ummat ketika dimana saja berada, maka maka menghadaplah ketida shalat kearahnya.

وَإِنَّ الَّذينَ أوتُوا الكِتٰبَ لَيَعلَمونَ أَنَّهُ الحَقُّ مِن رَبِّهِم

dan Sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya. Dalam tafsir Jalalain dinyatakan bahwa pemindahan kiblat ke arah Ka’bah ini adalah benar dan tidak disangsikan lagi dari Tuhannya orang-orang yang diberi Al-Kitab, karena di dalam Kitab-kitab Suci mereka dinyatakan bahwa di antara ciri-ciri Nabi SAW ialah terjadinya pemindahan kiblat di masanya.

وَمَا اللَّهُ بِغٰفِلٍ عَمّا يَعمَلونَ

dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan. Kalam terakhir “ya’lamun” dengan “ya”, bukan “ta’lamun” dengan “ta”. Jika dengan ta’, maka ditujukan kepada “kamu” hai orang-orang yang beriman, yang mematuhi segala perintah-Nya, sebaliknya bila dengan ya’, maka ditujukan kepada orang-orang Yahudi yang menyangkal soal kiblat ini.

Dalam hadis shahih Bukhari ke-40, dari Barra’ dinyatakan bahwa ketika Nabi SAW telah sampai di Madinah, shalat menghadap Baitul Maqdis sekira 16 atau 17 bulan, sedang beliau ingin diubah kiblatnya ke Ka’bah, maka turunlah ayat 144 ini dan berubah kiblat ke Ka’bah. Tepatnya ini terjadi pada saat shalat Ashar bulan Rajab.

Walaupun kita belum memasuki bulan Rajab, tetapi khatib memandang bahwa ini masih terkait dengan hijrahnya Nabi SAW. Sebab, jelas dari ayat itu bahwa setalah hijrah Nabi SAW ada kerinduan padanya untuk menghadap Ka’bah. Ketika di Mekkah memang Nabi SAW diperintah menghadap Baitul Maqdis, namun beliau shalat di antara rukun Yamani dan rukun Syami sehingga Ka`bah berada dihadapannya.

Karena itu pula, adanya hijrah Nabi SAW dan pergantian tahun hendaknya disikapi dengan perilaku yang lebih positif. Dan kita harus merasa rugi, jika dengan pergantian tahun tidak ada perubahan ke arah yang lebih baik. Kalau Nabi SAW hijrah memunculkan kerinduan kepada Ka’bah, maka pergantian tahun bagi kita diapresiasi dengan rindu dekat dengan Allah.

Tidak dapat dilepaskan dari kisah pemindahan Ka’bah, yakni Masjid Banu Salamah. Masjid tersebut merupakan masjid sejarah terjadinya pelaksanaan shalat dengan dua arah kiblat, sehingga sekarang masjid itu bernama Mesjid Kiblatain dan menjadi bagian dari Ziarah Tanah Suci yang diprogramkan bagi mereka yang melaksanakan ibadah haji. Ketika utusan Rasulullah tiba di masjid itu, kaum muslimin ketika itu sedang melaksanakan shalat Ashar, lalu utusan Rasulullah itu meneriakan bahwa kiblat kita sudah berpindah (berubah). Ketika itu pula makmum beserta imam serentak pindah arah kiblatnya ke arah Ka’bah.

Kalau kita bayangkan jika berita itu terjadi pada masa sekarang atau hari ini, barangkali ada dua kemungkinan, yakni cuek atau mungkin shalatnya akan bubar. Tapi tidak terjadi pada saat itu.

Harus kita akui, waktu itu mereka sejalan dan seirama karena setiap mukmin jujur dan tidak pernah berbohong. Saat itu makmum beserta imam serentak pindah arah kiblatnya karena yang memerintah orang mukmin dan yang mendengarpun orang mukmin.

Tapi kalau sekarang, tentunya akan terasa repot kalau tidak melakukan cek dan ricek. Karena yang mendengarkan sering bohong dan yang menyampaikannya pun sering bohong yang akhirnya sama-sama saling suudzan (saling berburuk sangka). Saat ini gosip adalah berita yang paling menarik, dan gosip adalah duit dan kita sendiripun paling senang dengan berita gosip.

Mengapa kita tidak jujur ? mengapa kita sering berdusta ?

Kita sering kali sulit untuk menerima berita, karena kebanyakan berita yang beredar ditengah-tengah kita bukan kebenaran. Pada masa sekarang orang lebih banyak “berprasangka“ kepada orang lain. Pada zaman Rasulullah pun pernah terjadi prasangka, ada seorang yang berjalan dengan seorang perempuan di tempat yang remang-remang. Lalu orang tersebut itu mengklarifikasi kepada Rasulullah: “Ya Rasulullah, yang berjalan itu adalah aku dan isrteriku. Rasulullah berkata : ”Jangan letakan dirimu pada tempat dimana orang akan berburuk sangka terhadap dirimu”. Jadi harus timbal balik, yakni kita tidak boleh berburuk sangka kepada orang lain dan juga tidak boleh membuat orang berburuk sangka kepada diri kita. Artinya kalau orang lain tidak berburuk sangka kepada kita, maka kita jangan memposisikan diri kita pada tempat dimana orang lain akan berburuk sangka kepada kita. Karena sering adanya prasangka-prasangka seperti ini, maka kebanyakan kita adalah berprasangka bukan kebenaran. Maka salah satu yang dilarang oleh Rasulullah adalah “qola waqila“ (katanya dan katanya). Akibat terlalu banyak katanya, akhirnya benarnya tidak dibahas, bahkan berita yang benar A tetapi yang datang kepada orang Z.

Marilah, setelah pergantian tahun hijriyah dan menjelang pergantian tahun masehi, serta sebentar lagi peringatan Maulid Nabi SAW, kita tanamkan rindu ke Baitullah, paling tidak rindu selalu dekat dengan Allah dan tidak mau berbohong dalam situasi dan kondisi apapun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: