Sumedang Motekar Antisipasi Sumedang Menyusut

????????????????????????Hari ini, Senin 22 April 2013 usia Kabupaten Sumedang genap 435 tahun. Ini didasarkan pada tanggal 22 April 1578 Masehi, Sumedang menjadi penerus Pajajaran, ditandai dengan diserahkannya mustika Binokasih sebagai lambang kerajaan dan kejayaan Pajajaran dari Prabu Siliwangi ke Prabu Geusan Ulun.

Berdasarkan ahli sejarah, runtuhnya kerajaan Padjadjaran pada abad ke 16 setelah adanya serangan laskar gabungan dari kerajaan Banten , Pakungwati, Demak dan Angke, pada waktu itu Sumedang Larang tidak ikut runtuh karena sebagian besar rakyatnya sudah memeluk Agama Islam yang datang dari arah timur. Karena itu pula pemegang pemerintahan kerajaan Sumedang Larang waktu itu adalah Pangeran Kusumahdinata yang berkuasa dari tahun 1530-1578, yang lebih dikenal dengan sebutan Pangeran Santri.

Ketika pada masa pemerintahan Pangeran Santri/Pangeran Kusumahdinata I raja Sumedang Larang ke-8 ayah dari Prabu Geusan Ulun pada tanggal 22 April 1578 atau bulan syawal bertepatan dengan Idul Fitri di Keraton Kutamaya Sumedang Larang Pangeran Santri menerima empat Kandaga Lante yang dipimpin oleh Sanghiang Hawu atau Jaya Perkosa, Batara Dipati Wiradidjaya (Nganganan), Sangiang Kondanghapa, dan Batara Pancar Buana Terong Peot membawa pusaka Pajajaran dan alas parabon untuk di serahkan kepada penguasa Sumedang Larang pada waktu itu dan pada masa itu pula Pangeran Angkawijaya/Pangeran Kusumadinata II dinobatkan sebagai raja Sumedang Larang dengan gelar Prabu Geusan Ulun sebagai nalendra penerus kerajaan Sunda Padjajaran dan Raja Sumedang Larang ke-9.

Yang menjadi permasalahan sekarang, seperti dikutip TribunNews, bahwa luas wilayah Kabupaten Sumedang diperkirakan akan terus menyusut. Bahkan tidak tertutup kemungkinan luasnya nanti hanya cukup untuk sebuah  kecamatan.

Saat ini luas Sumedang hanya 1.552,20 km persegi. Luas itu ditaksir akan terus menyusut jika Waduk Jatigede seluas 4 ribuan hektare mulai ditenggelamkan. Belum lagi dibangunnya Jalan Tol Cisumdawu, akan membelah Sumedang dan melingkari Gunung Tampomas. Selain itu, Cimanggung dan Jatinangor kerap merasa dianaktirikan dalam pembangunan. Padahal kedua daerah ini sebagai penghasil pendapatan asli daerah (PAD) paling besar untuk Sumedang. Kedua daerah di perbatasan kerap melontarkan akan memisahkan diri dan bergabung dengan Bandung Timur. Hal lain yang juga potensial membuat wilayah Sumedang menyusut adalah pengembangan wilayah di Ujungjaya dengan lapangan terbang internasionalnya yang ada di Kertajati, Majalengka.

Ketua Hari Jadi Sumedang, yang juga Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kab. Sumedang, Drs. Herman Suryatman, M.Si. mengatakan semua ancaman itu harus menjadi peluang. “Makanya tema Hari Jadi Sumedang sekarang ini adalah Sumedang Motekar, ” katanya.

Motekar, artinya kreatif dan gigih melakukan usaha perbaikan untuk kemajuan. Melalui tema tersebut, diharapkan semua warga Sumedang terdorong mengembangkan kreativitas di berbagai bidang sesuai profesinya masing-masing. Kata motekar, mengandung rumus tersendiri yang mengadung filosofi Budaya Sunda. Dalam rumus motekar, tidak ada istilah sunda “atuda” (alasan), yang terucap adalah “sanajan” (walaupun). Melalui rumus tersebut, tidak ada kata “pamohalan” (tidak mungkin-red), yang keluar teriakan “pasti bisa”. Selain itu, melalui rumus motekar tidak ada lagi pribahasa “mangga tipayun” (silakan di depan). Yang ada sapaan bijak dan penuh percaya diri, “punten kapayunan” (mohon maaf, kami di depan).

Tema motekar dalam memperingati hari jadi tahun ini, intinya membangun semangat dan motivasi tinggi seluruh elemen masyarakat untuk bahu membahu membangun Kabupaten Sumedang lebih baik, bahkan menjadi yang terdepan di Jawa Barat. “Motekar ini, sebuah tema untuk menstimulasi cara berpikir nyeleneh atau thinking outside the box,” kata Herman.

Sebetulnya, jiwa motekar warga Sumedang sudah terpatri dari dulu. Bahkan semakin tumbuh sejak lahirnya kebijakan Sumedang Puseur Budaya Sunda (SPBS) sebagaimana diatur dalam Peraturan Bupati Sumedang Nomor 113 Tahun 2009 tentang SPBS. Jiwa motekar terimplementasikan dalam kinerja aparatur pemerintahan di lingkungan Pemkab Sumedang dalam menciptakan pembangunan daerah yang maju dan kesejahteraan masyarakat.

Oleh karena itu, dengan apapun kondisi Sumedang, tetap memperlihatkan Sumedang Tandang. Yakin akan mampu sejajar dengan daerah lain yang lebih maju, bahkan menjadi terdepan. Met Ultah Sumedang.

2 Responses to Sumedang Motekar Antisipasi Sumedang Menyusut

  1. ciburuan says:

    Aya bahan ngaheureutan geningan Sumedang teh….

  2. ulah dugi ka ngalengit we pa…. Engke abdi mudik kamana upami dugi ka teu aya sumedangna….plz preserve this region…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: