Maulid Nabi SAW moment Introspeksi dan Pembangunan Karakter Bangsa

Ada tulisan menarik di harian Lintas Sumedang jumat ini. Judulnya “Maulid Nabi SAW sebagai Introspeksi dan Pembangunan Karakter Bangsa.” Tanpa mengubah makna tulisan, berikut adalah sadurannya dengan sedikit tambahan di dalamnya.

Sejalan dengan gema Maulid Nabi SAW sekarang, tulisan ini mencoba mengkaji bahwa kelahiran Nabi SAW bukan hanya konsep Tuhan mengutus beliau sebagai rahmat (kasih sayang) bagi semesta alam. Siapapun yang mempelajari Sirah Nabi SAW akan dengan mudah menemukan bukti hikmah-hikmah kasih sayang yang Islami tetapi bersifat general. Ini jelas diperlukan untuk mengatasi permasalahan kebangsaan saat ini, pertama sebagai introspeksi, kedua sebagai pembangunan karakter yang merupakan upaya perwujudan amanat Pancasila dan UUD 1945.

1. Maulid Nabi SAW sebagai Moment Introspeksi

Kita telah sama-sama tahu bahwa Nabi SAW adalah pemimpin yang paling dicintai pada nuansa dan jamannya, bahkan setelah beliau tiada. Kecintaan mereka bukan hanya karena iman. Kecintaan itu timbul karena cara Rasulullah SAW memperlakukan mereka.

Dalam Al-Quran surat Al-Taubah (S. 9:128) Allah SWT mensifati Nabi SAW dengan beberapa sifat yang kesemuanya merupakan penggambaran akan besarnya kasih sayang beliau. Ayat tersebut sebagai berikut:

لقد جاءكم رسول من انفسكم عزيز عليه ما عنتّم حريص عليكم بالمؤمنين رءوف رّحيم
“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.

Awal ayat ini menegaskan “Sungguh telah datang kepada kalian seorang Rasul dari kaum kalian sendiri.” Yaitu dari tengah-tengah kalian dan yang sebahasa dengan bahasa kalian. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ja’far bin Abi Thalib r.a kepada Raja Najasyi, dan apa yang dikatakan oleh al-Mughirah bin Syu’bah kepada utusan Kisra: “Sesungguhnya Allah telah mengutus seorang Rasul ke tengah-tengah kami dari kalangan kami sendiri, yang kami mengetahui nasab, sifat, tempat masuk, tempat keluar, kejujuran, dan amanahnya.” Sufyan bin ‘Unayah menceritakan dari Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya, ia mengatakan: “Rasul itu tidak pernah tersentuh oleh kehadiran Jahiliyyah.”

Selanjutnya disebutkan “berat terasa oleh Nabi SAW penderitaan kalian.” Ia merasa berat menyaksikan penderitaan dan kesusahan yang menimpa ummatnya. Kejahiliyahan pada jamannya menjadikan bermacam penderitaan pada masyarakat, penderitaan yang tentunya akan berdampak penderitaan pula di akherat kelak. Hal ini menjadikannya trenyuh dan kesedihan yang teramat dalam melihat kondisi dan permasalahan yang terjadi pada saat itu.

Ayat tersebut juga menyebutkan “Nabi SAW sangat mendambakan keselamatan kaumnya.” Beliau tidak menginginkan realita kehidupan ummatnya berlarut-larut, sehingga berkeinginan keras untuk memberikan petunjuk dan menghasilkan manfaat duniawi dan ukhrawi kepada kaumnya.

Di akhir ayat tersebut disebutkan “sangat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin”, sejalan dengan firman-Nya dalam al-Quran surat asy-Syu’ara (S. 26:215), “dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.” Ini merupakan tindak lanjut dari pengamatan beliau terhadap kondisi dan permasalahan ummat. Ini adalah gambaran bahwa walaupun seseorang bisa menghindarkan diri atau terhindar dari berbagai kemaksiatan yang ada di lingkungannya, tidak cukup hanya mengatakan sesuatu itu benar atau salah, sesuatu itu bagus atau jelek. Harus ada sikap dan tindak lanjut perbuatan ke arah perbaikan atau menjadikannya lebih baik. Tidak cukup moral knowing, tetapi juga harus ada moral feeling, dan moral action.

Ada beberapa permasalahan kebangsaan yang berkembang saat ini di negara kita, seperti: bergesernya nilai etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara; memudarnya kesadaran terhadap nilai-nilai budaya bangsa; ancaman disintegrasi bangsa, dan melemahnya kemandirian bangsa (Buku Induk Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa 2010-2025). Sejalan dengan keberhasilan Nabi SAW menjadi suri tauladan, maka untuk mengatasi permasalahan kebangsaan saat ini tentunya kita perlu introspeksi, sejauh mana kita memandang hal tersebut sebagai permasalahan bagi kita. Tidak cukup moral knowing, tetapi juga harus ada moral feeling, dan moral action untuk mengatasi persamasalah tersebut.

2. Maulid Nabi SAW sebagai Moment Pembangunan Karakter Bangsa

Kelahiran Nabi SAW bukan hanya berarti kedatangan pemimpin yang membawa keselamatan pada ummat. Beliau juga sebagai suri tauladan bagi kita, sebagaimana dalam Al-Quran surat Al-Ahzab (S. 33:21), Allah menegaskan:

لقد كان لكم فى رسول الله اصوة حسنة لمن كان يرجوا الله واليوم الآخر وذكر الله كثيرا
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.”

Moral action sebagai aplikasi dari pemahaman terhadap permasalahan yang dihadapi oleh Nabi SAW adalah kasih sayang terhadap ummat. Maka sejalan dengan ayat di atas, untuk mengatasi permasalahan bangsa saat ini harus menjadikan Nabi SAW sebagai suri tauladan bagi bangsa ini. Setiap diri berupaya semaksimal mungkin terhindar dari permasalahan bangsa ini. Setiap diri merasakan ada permasalahan yang mendera bangsa dan negara ini, siapa pun dia. Setiap diri memiliki keinginan kuat untuk menyelamatkan bangsa dan negara ini, bukan terkotak-kotak untuk gengsi masing-masing individu atau golongan. Dan setiap diri memberikan perhatian yang tulus dan lebih mendahulukan orang lain daripada dirinya, memberikan penghargaan kepada siapa pun yang layak mendapatkannya tanpa mencela pihak lainnya, dan berani memberikan maaf atas kesalahan orang lain. Setiap diri memiliki prinsip hidup sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi SAW, yakni “Sebaik-baik manusia adalah yang memberikan sebanyak-banyaknya manfaat kepada orang lain.”

Pembiasaan oleh semua pihak berkenaan dengan moral Nabi SAW merupakan pembangunan karakter bangsa untuk mewujudkan visi pembangunan nasional, yaitu “mewujudkan masyarakat berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila.”

Wallahu a’lam bi al-showab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: