Saatnya Mengecek Arah Kiblat

Ka’bah adalah kiblatnya seluruh umat Islam. Penentuan arah kiblat ke Ka’bah, yang semula ke Baitul Maqdis ini tersurat dalam al-Quran Surat Al-Baqarah (S. 2:142 dan 143). Dari sini jelas sekali, ketika ada isyarat untuk meluruskan arah kiblat, apapun ide awalnya atau siapapun pemberi beritanya, maka bijaksana jika kita mengindahkannya. Terlebih apabila arah kiblat yang kita miliki belum dicek kebenarannya dengan banyak pertimbangan. Ini memang akan terasa berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah (S. 2:143).

Sejak 2006, ketika ada himbauan dari PTA Bandung, saya telah menulis hal ini di wapsite saya tentang teknik menyelaraskan arah kiblat ke arah ka’bah yang sebenarnya.

Ini ditulis lagi terdorong oleh isyu gejala alam yang katanya akan sedikit memalingkan arah kiblat mesjid-mesjid di daerah bencana karena pergeseran lempengan bumi. Belum lagi penentuan dengan kompas yang rata-rata banyak digunakan orang masih bisa diganggu oleh pengaruh medan magnet. Apalagi dalam kompas:2009, menanggapi terjadinya penyimpangan arah kiblat di beberapa daerah termasuk 200 mesjid di Mekah terjadi karena proses pengukurannya dilakukan secara sederhana.

Walaupun begitu, masih ada cara menentukan arah kiblat yang justru sangat sederhana, yakni melalui bayang-bayang matahari. Bila matahari berada di atas Zenit sebuah busur lingkaran besar yang menghubungkan antara sebuah tempat dengan Mekah, maka arah bayang-bayang itu merupakan arah Kiblat tempat yang bersangkutan. Dalam hal ini kita bisa memanfaatkan momen posisi Matahari berada di atas Zenit Ka’bah. Arah bayang-bayang yang terbentuk saat itu akan menunjukkan arah Kiblat tempat yang bersangkutan.

Menurut Moedji Raharto, anggota Kelompok Keahlian Astronomi Fakultas MIPA ITB (Republika:2006), kesempatan ini terjadi dua kali dalam setahun yaitu ketika matahari akan mencapai titik paling utara (deklinasi paling utara, +23.5 derajat) dan yang kedua ketika matahari kembali menuju posisi ke ekuator langit dari titik paling utara tersebut. Pada tahun 2006 kesempatan momen pertama akan berlangsung 27 dan 28 Mei 2006 pada pukul 16:18 WIB. Sedangkan momen kedua berlangsung pada 15 dan 16 Juli 2006 pukul 16:27 WIB. Ini berarti, setiap tahun diprediksi pada 27 dan 28 Mei pukul 16:18 WIB serta 15 dan 16 Juli pukul 16:27 WIB bayang-bayang arah kiblat bisa diamati.

Dalam praktiknya, pengamat (observer) cukup menggunakan tongkat atau benda lain sejenis untuk diletakkan di tempat yang memperoleh cahaya matahari. Cahaya matahari yang menyinari benda tersebut akan menghasilkan bayangan. Arah bayangan ini merupakan arah kiblat.

Penentuan arah kiblat dengan cara tersebut sejatinya bisa dilakukan di semua tempat di permukaan bumi. Hanya saja, waktunya berbeda. Area yang terpisah dari Ka’bah kurang dari 90 derajat, akan bisa melihat matahari yang posisinya sedang berada di atas Ka’bah. Wilayah yang terpisah lebih dari 90 derajat dari Ka’bah, sudah gelap saat matahari berada di posisi tersebut, Wilayah Indonesia bagian Barat (WIB) dan tengan (WITA), masih bisa menempuh cara ini untuk mengetahui arah kiblat. Sementara itu, Wilayah Indonesia bagian Timur (WIT) harus melakukannya di waktu yang lain. (baca www.ilmufalak.or.id).

Dengan demikian, dianjurkan agar umat Islam menjadikan kesempatan posisi matahari di atas Ka’bah pada keempat tanggal itu sebagai momentum penentuan arah kiblat. Wa Allahu a’lam bi as-Sawab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: