Pemimpin dan Tanggung Jawab

Kullukum ro’in wakullukum mas-ulun ‘an ro’iyyatihi. Setiap kamu adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya.

Jadi, setiap kamu adalah orang yang dipercaya untuk berlaku baik terhadap apa yang dipercayakan kepada kamu semua. Maka setiap diri dituntut untuk berlaku adil dan mengurus kemaslahatannya atas apa yang dipercayakan kepadanya.

Kepemimpinan kamu dipertanggungjawabkan, bukan hanya di akhir periode kepemimpinannya. Bahkan di akhirat kelak akan dimintai tanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Jika ia mencukupi apa yang menjadi kewajibannya dalam memimpin atau memelihara, maka ia memperoleh bagian yang sempurna. Jika tidak dapat memenuhi, maka akan dituntut haknya, bahkan pada hari kiamat pun akan dituntut haknya di akhirat.

Pemimpin negara, pemimpin daerah, atau penggantinya adalah orang yang memimpin dan menjaga serta menguasai rakyatnya. Ia akan dimintai tanggung jawabnya dalam memimpin rakyatnya, apakah sudah menjaga hak-hak rakyatnya atau belum.

Pemimpin suatu instansi atau perusahaan, begitu pula halnya dengan seorang suami, seorang istri, seorang pelayan, seorang anak, bahkan dirinya sendiri adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawabannya.

Maka setiap kamu adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawabannya.

Bagaimana jika seorang pemimpin yang muncul dari sebuah partai atau kelompok tertentu, kaitannya dengan partai atau kelompoknya itu?

Kedekatan pemimpin dengan partai atau kelompoknya hanyalah sebatas bapak dengan istri atau anaknya dalam rumah tangganya sendiri. Ketika urusan terkait dengan kepemimpinan dirinya di luar rumah tangganya atau menyentuh rumah tangga orang lain, ia menjadi seorang pigur yang harus menjaga ketersinggungan atau ngiri bagi pihak atau kelompok lain.

Seorang bapak di dalam keluarganya adalah orang yang bertanggung jawab memajukan anaknya, termasuk meninggikan derajatnya. Tetapi ketika ia menjadi seorang kepala suku bukannya memunculkan anaknya untuk menjadi pembantu dirinya agar derajat anaknya meningkat. Kebolehan anaknya menjadi pembantu dirinya hanyalah jika memang anaknya lebih profesional dibanding yang lain. Biarkan anak kita bersaing dengan yang lain secara sehat, jangan ikut-ikutan mempromosikannya, masih ada saudara-saudaranya – atau jangan diikutkan bersaing sekalian.

Seorang bapak dalam keluarganya adalah pembina keluarga, agar keluarganya menjadi tauladan bagi yang lain. Tetapi ketika ia menjadi kepala suku, seluruh keluarga dalam suku tersebut menjadi binaannya, agar menjadi tauladan bagi suku-suku yang lain. Kekuasaan yang dimilikinya bukan hanya untuk membesarkan keluarganya sendiri. Bahkan dalam Islam, Nabi Muhammad SAW selaku pimpinan membiarkan dirinya berpuasa atau istrinya tidak kebagian roti daripada ummatnya tidak makan.

Seorang bapak dalam keluarganya adalah pemimpin keluarga, sehingga semua urusan dalam rumah tangga menjadi tanggung jawabnya. Tetapi ketika ia menjadi kepala suku, seluruh keluarga dalam suku tersebut menjadi tanggung jawabnya yang akan dimintai pertanggungjawabannya.

Digg! lintas beritakan submit to infogue Add to Technorati Favorites

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: