Isra Mikraj adalah keMahasucian Allah

Pada khutbah jumat hari ini sang khotib memaparkan makna keMahasucian Allah SWT di balik peristiwa Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW berdasar al-Quran surat al-Isra (S.17:1).

Khutbah itu diawali dari rasa bangga Abu Jahal atas berita perjalanan Nabi Muhammad SAW dari masjid al-Haram ke masjid al-Aqsha dilanjutkan ke Sidratul Muntaha pulang pergi dalam waktu semalam. Bangga karena menjadi moment yang dia nantikan untuk menjatuhkan Rasulullah SAW. Hanya saja kebanggaan itu sirna ketika Al-Shiddiq Abu Bakar membenarkannya dengan semoboyannya yang terkenal, “JIKA DEMIKIAN, MAKA BENARLAH DIA.”

Ujung-ujungnya materi Isra Mikraj menukik ke arah science dan technology. Abu Bakar membenarkannya dengan keimanan luar biasa, tetapi sekarang perjalanan seperti itu bukan hanya dibenarkan dengan iman, bahkan tataran akal pun dapat menerimanya. Kalau kita mau mencermati peristiwa Isra Mikraj, sebenarnya itu adalah sebuah isyarat, pertanda jaman.

Isra Mikraj mewasiatkan kepada kita, selaku bagian dari umat penghujung jaman, bahwa kita akan hidup dalam era science dan technology. Dan terbukti seluruh aktivitas kita dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi tidak bisa lepas dari science dan technology. Dari hal yang paling sederhana sampai kepada yang paling rumit sekalipun.

Semuanya itu adalah makna keMahasucian Allah dalam memperjalankan hamba-Nya Muhammad SAW pada peristiwa Isra Mikraj. Karena keMahasucian Allah itu pula peristiwa Isra Mikraj menjadi pertanda jaman belasan abad berikutnya. Perolehan ibadah shalat dari peristiwa itu pun sarat dengan perlunya kesucian beribadah kepada Allah yang Maha Suci. Bukan hanya disyaratkan suci dari hadats besar dan hadats kecil, bahkan ketika shalat pun kita dituntut suci lahir dan batin sehingga khusyuk dan tertib menjadi patokan benarnya ibadah shalat. Begitu pula efek dari shalat harus sampai kepada terhindarnya user dari fahsya dan munkar.

Dengan science dan technologi semuanya bisa serba mungkin. Dan dengan shalat pun tidak ada yang tidak bisa, tidak ada yang tidak mungkin. Terlebih dalam al-Quran surat al-Thalaq (S. 65:2) telah ditegaskan, “Barang siapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: