Budaya Berjenggot dan Budaya Lupa

Memelihara jenggot adalah perbuatan sunah Nabi bagi umat Islam. Tapi di sini saya lebih tertarik mengistilahkan budaya berjenggot untuk di Indonesia. Sebab, di satu sisi kita menjadi ingat ada sunah Nabi yang sulit diterapkan tetapi kemudian mampu memberanikan diri untuk applicated. Di sisi lain kita senantiasa dipengaruhi oleh sikap dan perilaku kita yang sudah melekat, sudah berurat berakar, yakni menyepelekan hal-hal yang dipandang kecil dan atau kesombongan atau kekerdilan pengamalan Islam yang kita miliki. Jika kedua sisi muncul atau sisi yang satu bersinggungan dengan sisi lainnya, maka saya pandang untuk saat ini berjenggot sedang dibudayakan.

Ketika seseorang tersadarkan untuk memelihara jenggot sebagai bagian dari pengamalan sunah Nabi, seharusnya menumbuhkan kekentalan sikap dan perilaku keislaman yang makin tinggi. Jika tidak demikian, gagallah orang tersebut, bahkan bisa jadi justru memperburuk citra umat Islam di mata dunia seperti kasus jilbab di tahun2 yang lampau yang dilakukan oleh perusak2 Islam dengan mengidentikkan yang berjilbab sebagai pencuri atau penebar racun.

Hanya saja tentunya akan lain jika berbicara jenggot dikaitkan dengan amrozi atau osama bin laden. Mereka punya power, sehingga kemunkaran yang mereka temukan akan dihadapi dengan tegas dan keras, biyadin, bukan bi ‘llisan atau bi ‘lqalbi. Maka berjenggot tidak dapat diidentikkan dengan ISLAM RADIKAL, sebab prinsip orang seperti amrozi itu memang demikian.

Seperti yang saya temukan di masyarakat, tidak sedikit mereka2 yang memelihara jenggot (baru membudayakan), baik ahli-ahli pengajian atau anggota/ simpatisan partai Islam, mereka terlupakan kebanggaan atau kekurang tahuan makna penambahan aplikasi sunah Nabi itu. Tulisan ini pun sebenarnya diangkat dari spontanitas saya menghadapi orang seperti itu

Pagi ini, kebetulan masih di rumah, saya membersihkan sepeda yang sudah lama tersimpan di gudang. Datang petugas pencatat meteran air tanpa permisi atau apa pun, padahal saya tidak jauh dari meteran air itu. Karena tidak ada orang lain di sekitar itu dan kebetulan petugas itu memelihara jenggot bahkan terkesan islami, langsung dia ditegor dengan dibumbui kalimat “jangan sekali2 lagi, malu sama jenggot”.

Kejadian seperti itu bukan hanya dimunculkan oleh kalangan biasa. Bahkan yang berstrata dua, mungkin juga tiga, termasuk yang pengetahuan keislamannya tinggi, konsistensi mereka pada islam kurang (yang dimilikinya saja, jangan dulu kaffah, seperti santun dan sopan terhadap sesama, lebih baik lagi jika lebih mengutamakan salam dan senyum).

Jangan munculkan istilah budaya berjenggot dan budaya lupa, tapi memelihara jenggot adalah penambahan aplikasi sunah Nabi dan tanpa melupakan istighfar, takbir, dan la haula wa la quwwata illa bi ‘llah.

One Response to Budaya Berjenggot dan Budaya Lupa

  1. gibson says:

    Jenggot, bukan hanya persoalan sunnah atau bukan, akan tetapi persoalan alamiah-biologis…. kalau seperti saya yang bulu jenggot hanya tumbuh minimalis, kalau dibiarkan tumbuh dan panjang, malah mengundang kucing tertawa terpingkal-pingkal…. NGAK LUCUUUUUU……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: