Seabad Kebangkitan Nasional (2)

Kini kita diingatkan pada seabad masa bangkitnya semangat persatuan, kesatuan, dan nasionalisme serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, tepatnya masa itu terjadi pada 20 Mei 1908 yang kemudian diikuti semangat baru 28 Oktober 1928. Masa itu dijuluki hari kebangkitan Nasional dan masa berikutnya dengan hari Sumpah Pemuda.

Masihkah semangat kebangkitan Nasional tertanam dalam jiwa raga bangsa Indonesia sekarang ini? Ataukah sudah luntur gara-gara berbagai kebijakan pemerintah dan musibah yang bertubi-tubi di Negara ini?

Saya teringat ungkapan Hasyim Asy’ari dalam Soeara Masjumi 15 Mei 1944 yang dikutip oleh Drs. Lathiful Khuluq, MA dalam bukunya Fajar Kebangunan Ulama: “Jika seseorang melihat lebih dalam lagi, kesulitan dan kekurangan ini disebabkan juga oleh merajalelanya perbuatan maksiat (dalam arti kemunkaran) yang dilakukan umat terhadap Allah. Kesulitan dan kekurangan merupakan peringatan Allah kepada kita, umat Islam, agar selalu ingat pada-Nya, harus melaksanakan perintah-perintah-Nya, dan menjauhi larangan-larangan-Nya.”

Sebagaimana termaktub dalam surat Muhammad (S. 47:31), Allah SWT menegaskan, “Dan sesungguhnya kami benar-benar akan menguji kamu, sehingga terbukti siapa yang berjuang dan siapa yang sabar di antara kamu, dan agar kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu.”

Karena itu, tentunya kewajiban kita adalah senantiasa menebalkan kekuatan iman kita kepada Allah SWT supaya bisa bersyukur pada saat mendapatkan kesenangan, saat sehat, juga saat kaya. Kita juga berkewajiban untuk senantiasa bisa bersabar menghadapi segala musibah yang menimpa kita, baik itu kesusahan, kesulitan, sakit, termasuk juga kemiskinan atau kematian. Itu semua adalah kecil di mata Allah, sehingga orang yang syukur nikmat atau sabar atas musibah, dialah yang yakin bahwa segala sesuatu itu dari Allah SWT. Terlebih lagi Allah SWT telah menegaskan, “qul kullun min ‘indi Allah (Katakan olehmu, hai Muhammad, segala sesuatu itu dari Allah!”

Siapa tahu betul kita telah banyak berbuat kemunkaran seperti kata Hasyim Asy’ari. Kebangkitan Nasional yang diawali peristiwa penting Budi Oetomo (1908) mungkin tidak memunculkan kebangkitan bangsa Indonesia setelahnya. Hanya bagaimana pun Allah SWT tetap mengasihi hambanya yang senantiasa berlindung dan minta perlindungan-Nya. Dalam hadits Nabi dinyatakan, “Sesuatu yang menimpa seorang mukmin, seperti pusing, kecapean, penyakit, keprihatinan, termasuk kesusahan yang membingungkan dirinya, itu jadi kifarat penebus dosanya.” (HR Muslim).

“Qul amantu bi Allah, tsumma istaqim.” Katakanlah, aku beriman kepada Allah (dalam setiap situasi dan kondisi apapun), dan kita istiqamah serta tetap “iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’iin”. Jika sakit berobat, jika dikurangi rizki berusaha mencarinya, jika dicabut subsidi cari solusi, dan sebagainya, sambil tawakal kepada Allah. Jangan terbawa emosi oleh ketidakadilan dan jangan berdiam diri hanya mengandalkan tawakal.

Pengamalan seperti inilah kiranya menyambut seabad kebangkitan nasional. Dan sebagai pegangan kita, seperti dikemukakan oleh Kwiek Kian Gie bahwa pilar kebangkitan nasional ada 8, yaitu: kemandirian, peradaban, penguasaan iptek, persatuan dan kesatuan, pertahanan dan keamanan, tempat kedudukan di mata negara asing, kemakmuran yang berkeadilan, dan keuangan negara.

Dan di seabad kebangkitan Nasional ini, Habibi menyatakan, “kebangkitan itu akan tercipta dengan empat hal: merdeka, bebas, bertanggung jawab, dan berbudaya.” Maka, jika kita sudah menyatakan kemerdekaan Negara Indonesia 17 Agustus 1945, kita difasilitasi kebebasan melalui reformasi 10 tahun yang lalu, sekarang saatnya kita bertanggung jawab untuk mempertahankan kemerdekaan itu dan memanfaatkan kebebasan yang kita miliki dengan memberikan sesuatu yang bisa dari kita untuk bangsa dan negara – jangan terlalu berharap sesuatu dari bangsa dan negara untuk kita. Dan satu hal yang tidak boleh kita lupakan, hidup dan bergaullah dengan berbudaya, budaya luhur bangsa Indonesia yang memperlihatkan keluhuran bangsa dan tanah air Indonesia- bukan budaya yang hanya untuk kepentingan sendiri dan sesaat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: