masih tentang akhlak

Kemarin kita diingatkan lagi hari pendidikan nasional 2 Mei 2008. Ini mengingatkan saya pada salah sebuah syair berikut:
“wa idza al-ma’aarifu asyraqat fii ummatin, naalat amaaniihaa bighairi tawaanin.”
>> seandainya pengetahuan atau ilmu sudah tertanam dalam diri suatu bangsa, maka bangsa itu akan dapat menggapai cita-citanya, akan memperoleh kemerdekaan dan kebebasan, tanpa ada penghalang.

Ini karena seperti kata sebagian ulama bahwa “al-ilmu nuurun wa al-jahlu dhulamun” (ilmu adalah cahaya dan kebodohan adalah kegelapan). Ilmu diibaratkan cahaya, karena menerangi hati dan pikiran manusia; kita bisa tahu segala hal yang asalnya tidak tahu; perjalanan hidup kita indah karena kita tahu ilmunya. Dan bodoh itu gelap, karena kebodohan menutupi hati dan pikiran; segala hal yang menimpa kita malah menjurumuskan kita karena kita berjalan di kegelapan hati dan pikiran.

Hanya perlu diingat, segudang ilmu yang kita miliki tidak akan berdaya guna andai kita malas atau bermalas-malasan. Bahkan Allah Yang Maha Kuasa tidak akan memberikan pahala atas kepemilikan ilmu itu sebelum kita mengamalkannya. Kata Nabi SAW, “ta’allamuu maa syi’tum in ta’lamuu fa lan yuujirakum Allahu hatta ta’lamuu” (belajarlah kamu, apa saja yang kamu ingini, tetapi Allah tidak akan memberikan pahala atasmu sebelum kamu mengamalkannya).

Peringatan lain dari Allah dalam Al-Quran surat Fathir (S. 35:28) “innamaa yakhsyaa Allaha min ‘ibaadihi al-‘ulamaa-u” (Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama). Sehingga Rasulullah SAW bersabda, “tiap hari dimana aku tidak bertambah ilmu yang mendekatkan aku kepada Allah, maka berarti tidak berkat bagiku terbit matahari pada hari itu.”

Kalau begitu, hendaknya setiap saat kita menganalisis segala unsur yang terkait dengan pendidikan; pendidik (termasuk tenaga kependidikan), anak didik, bahan, strategi, dan lingkungan pendidikan. Sebagaimana termaktub dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional bahwa inti pendidikan nasional yang pertama ditegaskan berkenaan dengan keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Ini berarti orientasi pendidikan kita masih tentang akhlak.

Jadi, keberlangsungan pendidikan nasional tetap dituntut untuk senantiasa mengadakan perubahan ke arah yang lebih baik (jadi jangan langsung marah jika terjadi perubahan kurikulum walaupun berindikasi menambah biaya pendidikan baik di pihak pengelola maupun pemilik input pendidikan). Dan keberlangsungan pendidikan itu guna menciptakan SDM yang memiliki kompetensi sesuai bidang pendidikannya; walaupun dengan standar minimal, tetapi berakhlak mulia dan terpuji perilakunya.

Saatnya sekarang, bukannya kita hanya menggerutu sistem pendidikan yang ada, tetapi introspeksi diri kita masing-masing, sejauh mana kita mempersiapkan regenerasi yang akan bersaing di dunia global. Dan yang tidak boleh terlupakan dan dihindarkan masih tentang akhlak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: