Archive for Maret, 2009
Situ Gintung versus Caleg
Dua lagi ngtrend, Situ Gintung dan kampanye Caleg. Situ Gintung jebol menelan banyak korban dan yang dinyatakn hilang. Geger, dan lucunya ada yang saling salahkan, bahkan mempolitisir. Adapun kampanye Caleg dg segala keterbatasannya tetap menghangatkan suasana. Saling lempar isyu dan sindiran tetap jadi topik kampanye.
Jika keduanya berdampingan tentu akan didapat kaitan erat; Situ Gintung tantangan bagi Caleg.
Basis siapa di situ dan apa kontribusinya?
Pertanyaan ini penting dijawab, sebab siapa pun dan bagaimana pun mereka yang terpilih adalah wakil rakyat sekitar situ Gintung. “Mereka dipilih bukan dilotre,” kata Iwan Fals. Terlebih di jaman pemilu sistem distrik, walaupun semi, mereka harus betul-betul menjadi wakil rakyat yang tentu harus meliputi segalanya.
Ini bukan memojokkan seseorang, hanya kebetulan. Maksudnya, Situ Gintung hanya sebuah contoh, sebuah fenomena yang riil.
Maka dari itu, seorang caleg hendaknya seorang politisi profesional yang hendaknya pula diperlakukan sebagai seorang profesional oleh parpol pengusungnya. Bisa nggak ya? Sebab di liga olah raga saja, klub pemilik pemain profesional akan berupaya membayar berapa pun harga pemain dengan catatan bisa mengangkat prestasi dan prestise klubnya. BUkannya pemain mengisi kas klub-nya untuk bisa dipakai sebagai pemain inti atau cadangan. Pada akhirnya mereka akan bermain bagus dan menguntungkan kedua belah pihak. Sementara caleg kadang dituntut mengeluarkan biaya gede-gedean sendiri-sendiri, yang pada akhirnya setelah jadi anggota legislatif berada di persimpangan.
Dengan mengambil contoh kasus situ Gintung, jelas bahwa jebolnya situ tersebut sebagai tantangan bagi para caleg. Mampukah para caleg setelah menjadi anggota legislatif memperhatikan lingkungan dapilnya? Paling tidak mengurangi terjadinya musibah yang besar.
2 comments Maret 30, 2009
Sosialisasi Pemilu
Semenjak ditunjuk jadi anggota KPPS, bingung aku untuk sosialisasi pemilu. Sebab, KPPS sudah barang tentu memiliki tanggung jawab yang lebih untuk mensosialisasikan pentingnya Pemilu untuk masa depan bangsa dan negara. Tapi, ya itu, jika seseorang sudah terbelenggu oleh image golput, apa yang harus diangkat untuk mengubah image mereka. Di sisi lain, bagaimana mengarahkan para pemilih untuk menentukan pilihan yang tepat tanpa mengarahkan mereka kepada salah satu parpol.
Alhamdulillah, ketemu jawabannya dari khutbah Jumat kemarin. Sang khatib awalnya mengajak jamaah untuk bersama-sama mengaplikasikan perintah dzikrullah sesuai perintah Allah dalam al-Quran surat al-Ahzab (S. 33:41). Dengan memperbanyak berdzikir, katanya, bukan hanya akan terampuni dosa kita, tapi juga menghadirkan hati yang selalu dekat dengan sang Pencipta. Nabi Muhammad SAW bahkan menyatakan bahwa dzikrullah itu obat yang utama untuk menentramkan hati.
Di khutbah kedua, khatib menekankan pentingnya memulai segala sesuatu yang baik dengan ucapan basmalah. Alkisah, seorang wanita yang tidak pernah luput dari memulai pekerjaan dan kegiatan sehari-harinya dengan basmalah ternyata bisa luput dari kejahatan suaminya yang akan menjerumuskannya. Dari khutbah kedua inilah muncul asumsi khotib bahwa dengan basmalah maka tidak ada alasan lain untuk tidak mensukseskan pemilu.
Setuju deh, dengan senantiasa mengawali kegiatan dan atau pekerjaan apapun dengan baca basmalah, tentu sama artinya kita menyadari bahwa segala sesuatu tidak lepas dari izin dan ridlo Allah. Jika basmalah mengawali segala-segalanya berarti segala putusan, kebijakan, tindakan, dan apapun dari kita digantungkan pada Allah untuk terarah pada yang haq. Insya Allah. Sebelum kita memberi tanda ceklis pada salah satu caleg atau parpol terlebih dahulu baca basmalah, insya Allah haq, paling tidak kita dapat ampunan Allah seandainya salah memilih.
Makasih pak khatib yang telah membantu sosialisasi pemilu.
1 comment Maret 21, 2009
mamabojong





